Seruling Dewata

Home

Sejarah

Sesepuh

Profile

Tapak Suci

Cakra dan Kundalini

Kanda Pat

Yoga Watukaru

72 Jurus Inti

Buku - buku Perguruan

 
"Tiada benda tiada kesalahan, tiada keakuan mencapai kebahagian dan kelepasan "

Sesepuh Generasi I-Ki Budhi Darma

Pediksan sesepuh tahun ke 63 bulan ke 11 hari ke 26 ( caka warsa 463 / 542 masehi )

Pada abad ke V caka datanglah ke Bali Dwipa seorang pendeta Budha ahli silat yang masih muda dari Jambu Dwipa yang bernama Ki Byanlu Syamar atau Pangeran Jayawarman atau Ki Budhi Darma, Budi Darmo , dan di Bali dikenal dengan sebutan Biksu Dharmo, Ki Byanlu Syamar menguasai Kundalini, Ilmu Kundalini Saktinya sangat sempurna yang di pelajarinya selama 40 tahun dari seorang Maha Guru di Jambu Dwipa yang bernama Swami Prajnatara. Bi Budhi Dharma adalah seorang pangeran di tanah Jambu Dwipa, seperti yang dituturkan dalam Parampara Perguruan Seruling Dewata : •  Nama kecilku adalah Byanlu Syamar. Aku dilahirkan di sebuah kerajan kecil di Jambu Dwipa ( India ), tepatnya di suatu daerah yang indah, subur menghijau yang bernama Kanchipuram – Baramon dekat Madras . Raja Sugandha adalah Ayahku. Aku adalah putra tertua yang selalu disitimewakan. •  Bahkan dikala berusia enam belas tahun dengan upacara meriah Aku dinobatkan menjadi Pangeran mahkota dengan Nama baru JAYA WARMAN . Di kala itulah datang seorang pendeta dengan prabawa kesucian yang luar biasa, yang ucapannya mampu menentramkan hati nuraniku, aku merasa tentram berada didekatnya. Dikala mendengar berita yang menggetarkan seluruh istana Adikku minggat meninggalkan istana, karena ingin menjadi Putra Mahkota yang nantinya menggantikan ayahanda menjadi seorang raja, akhirnya bulatlah tekadku, demi kasih saying kepada adikku, maka dihadapan pembesar istana, kalau adikku ditemukan akan kuberikan gelar Putra Mahkota yang kusandang, Adapan tujuannya datang ke Nusa Ning Nusa ( Nusantara ) i adalah untuk menyebarkan agama Budha. •  Dengan sedih hati aku meninggalkan kerajaan tempat kelahiranku. Pergi merantau kekerajaan lain sambil menyebarkan ajaran Sang Buddha. Namun selalu saja ada utusan prajurit negeri ku yang ingin membunuhku secara diam-diam, akhirnya aku terpaksa berkelana lebih jauh lagi meninggalkan Jamu Dwipa ( India ) tujuanku satu yaitu Nusa Ning Nusa atau Nusantara ( Indonesia ). •  Aku teringat perkataan para pengelana yang pulang dari melanglang bhuana bahwa Nusa Ning Nusa ( Nusantara atau Indonesia ) adalah Gudangnya orang-orang suci dan orang-orang sakti, bahkan para pengelana ke Nusa Ning Nusa, tapi tidak sampai di watukaru maka sia-sialah perjalanannya. •  Dalam perjalanan ke Nusa Ning Nusa ( Nusantara) berbagai daerah baru dilewati setiap daerah yang kulewati aku menyebarkan ajaran sang Buddha, banyak para penjahat yang telah ku temui kukalahkan dalam pertarungan baru mau menerima ajaran sang Budhha dan akhirnya mendapatkan kesadaran dan menjadi orang baik. Di Bali Dwipa, Ki Budhi Dharma bertemu dengan Ki Suling yang ahli Filsafat Seruling Dewata, juga ahli Ilmu Silat dan juga ahli Pengobatan . dan keduanya sempat berdiskusi dan dari hasil diskusi tersebut Budhi Darma merasa tunduk kepada kemampuan Ki Suling dalam lmu Silat , Ilmu Pengobatan , dan terutama Ilmu Filsafat Kebajikannya,sehingga akhirnya Budhi i Dharma sendiri akhirnya berguru kepada Ki Suling. Ki Budhi Dharma sendiri diselamatkan oleh Ki Suling setelah bertempur dengan empat pendekar pilih tanding yang mengangkat diri mereka sebagai " Empat Pesilat Tanpa Tanding " pada abad ke 4 tahun Caka 96 ( sekitar 474 masehi ) karena satu sama lainnya memiliki kemampuan yang sama pada saat bertarung memperebutkan Gelar " Kesatria Lelanganing Jagat " , Gelar Kesatria Lelanganing Jagat ini pada jaman dahulu diperebutkan oleh semua pesilat di Bali Dwipa setiap tiga tahun sekali dan pemenangnya disamping mendapat julukan " Kesatria Lelanganing Jagat " juga berhak mendapatkan "Mustika Matahari "yang merupakan Peninggalan " Paguron Surya ", ke empat pendekar tersebut adalah : I Manasara, pesilat dari Gunung Batur, I Pisana , pesilat dari Gunung Agung, I Krengga, pesilat dari puncak kedua Gunung Watukaru, dan I Cangkreng , pesilat dari Pulau Karang di selatan Bali Dwipa. keempat pesilat tanpa tanding inipun berhasil dikalahkan oleh Ki Suling , serta memberikan nasehat rohani kepada keempat pesilat ini sebelum mereka bertapa seumur hidup serta tidak akan mencampuri urusan dunia persilatan .•  Setelah lama kami berdua berdiskusi masalah ILMU KEBAJIKAN – ILMU SILAT- ILMU PENGOBATAN aku benar-benar mengakui kehebatan kemampuannya, jauh diatas kemampuan guru-guru ku sebelumnya, inilah yang selama ini kucari, aku telah sampai pada ujung harapan maka, tanpa buang waktu segera aku memohon agar diterima sebagai muridnya. dengan senag hati menerimaku sebagai muridnya yang terakhir, pada saat itu juga mahaguru Ki Suling mengajariku TIRTA PRANAYAMA atau Ilmu Pernapasan Air dan SAHASRA KARTIKA WIKRIDITA atau ilmu Langkah Seribu bintang, serta dihadiahi sebuah suling bamboo, dia merasa sudah tua, tidak mampu lagi mengajar dengan baik, maka setelah menguasai kedua ilmu yang diajarkan aku disuruh ke GOA SUNIA MANDALA dan belajar sendiri, disana sumbernya ilmu Seruling Dewata Budhi Dharma akhirnya berhasil menguasai ke 72 macam ilmu silat dari Perguruan Bulan Sabit Cabang Seruling Dewata, serta mendirikan Perguran Silat Baru di Bali Dwipa pada abad V Caka, tahun ke 63 ( 641 Masehi ) , bulan ke 11 hari ke 26 dengan nama Perguruan Seruling Dewata dengan Ki Budhi Dharma sebagai Ketua Angkatan I . Para Siswa yang berlatih bersama di bawah bimbingan lansung Ki Byanlu Syamar dan menjadi pemimpin golongan adalah : Ki Mudra, Ki Madra, Ki Druma, Ki Sikapa, Ki Kedung, Ki Rencang, Ki Buntar, Ni Ambarawati. Ki Budhi Dharma menciptakan dua buah ilmu silat tanpa wujud yang Maha Dahsyat yang salah satunya adalah Ilmu Silat Maha Maitri atau Ilmu Silat Maha Cinta Kasih .

berikut sepenggal kisah masa kecil Sesepuh Generasi Ke II Ki Budhi Darma, seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga :

Ketika masa kecil bergelimang kemewahan Tidak pernah ada permintaanku yang tidak mampu dipenuhi orang tuaku, karena karmaku aku dilahirkan di istana kerajan, Ayahku adalah seorang raja, dan aku adalah anak sulung yang suatu saat akan memerintah negeri ini. Nama kecilku adalah Byanlu Syamar. Aku dilahirkan di sebuah kerajan kecil di Jambu Dwipa ( India), tepatnya di suatu daerah yang indah, subur menghijau yang bernama Kanchipuram – Baramon dekat Madras. Raja Sugandha adalah Ayahku. Aku adalah putra tertua yang selalu disitimewakan.Kemanapun aku pergi di kawal banyak prajurit, yang selalu merasa khawatir keselamatan ku, tidak banyak anak-anak sebayaku yang berani bermain denganku. Apa yang kuinginkan selalu dipenuhi, banyak anak yang dihukum, potong tangan, potong kaki, bahkan dihukum mati hanya karena berani berebut sesuatu dengan ku. Apakah kehidupan seperti ni menyenangkan? Apakah keadaan seperti ini yang selalu ku harap? Semuanya itu sangat membosankan, aku ingin yang wajar-wajar saja, akupun sedih menyaksikan teman sepermainanku dihukum berat. Setiap hari aku belajar sastra , kanuragan dan ilmu perang suatu ketrampilan yang harus di kuasai oleh seorang raja nantinya. Dalam usia dua belas tahun aku telah menguasai dua puluh sembilan ilmu silat India kuno. Ilmu silat Kalarivayit, Ilmu Silat Mathavan, Ilmu Silat Naghabhavana, Pancakadka, Ksatria Dandha, Gandha Hanoman, Pancapana ilmu memanah yang dahsyat dan sebagainya. Dalam belajar sastra, kanuranagn dan ilmu perang Akupun tidak merasa tentram, banyak Ki Hajar sastra dan Ki Hajar Wira, Guru yang mengajarkan membaca, menulis dan surat menyurat, serta olah kanuragan berganti-ganti, tidak jarang seorang guru yang dihukum mati hanya kerna kemajuan belajarku agak lambat karena kejenuhan dan kemalasanku. Aku merasa sedih dan sangat berdosa, banyak kematian sia – sia karena kesalahanku, lama kelaman rasa berslaah dan berdosaku semakin menumpuk menyebabkan aku menjadi seorang pendiam dan merasa bosan atas segalanya. Bahkan dikala berusia enam belas tahun dengan upacara meriah Aku dinobatkan menjadi Pangeran mahkota dengan Nama baru JAYA WARMAN . Di kala itulah datang seorang pendeta dengan prabawa kesucian yang luar biasa, yang ucapannya mampu menentramkan hati nuraniku, aku merasa tentram berada didekatnya. Dikala mendengar berita yang menggetarkan seluruh istana Adikku minggat meninggalkan istana, kerna ingin menjadi Putra Mahkota yang nantinya menggantikan ayahanda menjadi seorang raja, ayahanda marah besar hamper menitahkan hukuman mati untuk adikku, akhirnya bulatlah tekadku, demi kasih saying kepada adikku, maka dihadapan pembesar istana, kalu adikku ditemukan akan kunerikan gelar Putra Mahkota yang kusandang. Sumpahku menggetarkan, semua pembesar istana tercengang ayahanda dan ibundada ratu kaget dan membisu suasana menjadi hening, diam tanpa sepatah kata, saling menunggu bicara pada penobatan berbicara dengan tenang penuh wibawa yang terjadi biarlah terjadi. Sudah ditakdirkan Pangeran muda ini tidak berjodoh menjadi seorang raja….dia akan mengikutiku berkelana melanglang buana dan akan menjadi orang besar yang tidak hanya dikenangrakyat negeri ini, tapi seluruh jagat raya akan mengaguminya sepanjang jaman. Akhirnya atas petunjuk Pendeta maha suci , adikku berhasil ditemukan dalam tiga hari serta langsung dinobatkan menjadi putra mahkota adikku memelukku penuh ucapan terima kasih. Dan akupun melangkah pergi meninggalkan istana mengikuti langkah pendeta maha suci memasuki hutan belantara. sambil berjalan ke hutan Pendeta Maah Suci berserita tentang Dharma dan memperkenalkan dirinya bernama SWAMI PRAJNATARA Pendeta maha suci di Jambu Dwipa pada jaman itu Aku bersyukur mendapat bimbingannya tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.

berikut adalah Bagaimana Ki Bhudi Darma sampai akhirnya di Bali Dwipa dan bertemu dengan Ki Suling , Sesepuh Pemula Paiketan Paguron Suling Dewata , seperti di tuturkan oleh Ki Hanuraga :

Akhirnya aku sampai pada suatu daerah yang kesuciannya mampu menggetarkan hati nurani dan sukma ku daerah hutan yang asri, pemandangn yang indah mempersona. Sedikitpun tidak terasa nuansa kejahatan di dalamnya, lama aku terdiam perasaan ku bagaikan berada di alam kahyangan, betul-betul tentram aku berjalan dan terus berjalan, akhirnya sampai di sebuah tanah datar, dipegunungan yang indah menghijau akau bertemu dengan empat ornag pertapa di daerah ini yang merupakan empat lawan yang telah menjadi kawan. Keempat orang ini tertawa riang sepakat mengangkat diri menjadi EMPAT PESILAT TANPA TANDING suara tertawanya begitu nyaring bergema jauh ke segala penjuru bergema di setiap lemabh dan jurang , menunjukkan penguasaan tenaga dalam yang luar biasa, namun ada kesan kesombongan dalam ucapannya. Tenaga dalam empat pesilat wilayah ini sungguh luar biasa, hamper menyamai tataran yang kucapai selama ini, dalam perjalanan demi perjalanan bertemu banyak lawan tangguh namun tidak ada yang setangguh ini yang kutemui, namun mendengar kesan kesombongan dalam ucapannya tanpa sadar aku mengerahkan segenap tenaga dalam yang kumiliki lalu mengumandangkan sebuah syair ajaran Sang Buddha. Langit biru betapa tingginya? Apa gerangan yang ada di atasnya? Laut nan biru betapa dalamnya apa gerangan yang ada di bawahnya? Adakah yang tertinggi? Adakah yang terendah? Tiada yang tahu? Di atas puncak gunung ada awan? Di atas awan ada langit , di atas langit ada bintang, di atas bintang ada yang lebih tinggi tiada batasannya. Setelah dengan ilmu lari cepat aku sampai di dekat empat pesilat tangguh ini. Akupun memberanikan diri memberikan nasehat agar jangan menyebut dirinya” Pesilat tanpa tanding”, karena diatas yang pandai ada yang lebih pandai, sesungguhnya di jagat raya ini tidak ada yang paling pandai. Setelah memberikan nasehat sebenarnya aku ingin memperkenalkan ajaran Sang Budhha kepada empat pesilat tangguh ini, namun tidak di duga keempat pesilat tangguh ini bukannya berterima kasih malahan tersinggung dan marah –marah serta merasa tersindir. keempat pesilat tangguh ini beranggapan bahwa aku menghalagi niatnya sebagai empat pesilat tanpa tanding, aku sungguh tidak tahu kesepakatan menjadi empat pesilat tanpa tanding ini justru merupakan usaha yang utama, yang mampu menghentikan pertarungan adu jiwa keempat pesilat ini yang telah lama kali berulang setiap tiga tahun bertarung hidup mati, untuk menentukan yang terbaik namun selama ini hasilnya seimbang. Keempat pesilat tangguh ini, berkeinginan untuk membunuhku agar berita ada orang asing pernah berani menghalaginya tidak tersiar di duania persilatan, slaah seorang dari kemepat pesilat tangguhh menantangku bertarung dan aku melayani dengan senang hati. Diluar dugaan setelah bertarung selama satu hari satu malam, kami berdua masih dalam keadaan seimbang, tidak ada yang kalah dan menang, aku kaget dalam perjalananku berkelana selama ini tidak da setangguh ini yang paling kuat hanya mampu bertahan setengah hari. Aku lebih kaget lagi ketika keempat pesilat tangguh ini mulai menyerang secara bersamaan, padahal tenaga ky sudah mulai habis tubuhku sudah sangat lelah yang lebih kaget lagi keempat pesilat tangguh ini sepertinya melupakan sifat-sifat ksatria seorang peilat, tidak merasa malu mengeroyok lawan yang sedang kelelahan. Namun tiada kesempatan bicara tidak ada kesempatan melarang pertarungan semua serangan mematikan semua serangan mengarah mencabut nyawa terpaksa aku bertahan sekuat tenaga, tubuhku mulai kena serangan dalam tingkat tinggi, disana sini penuh dengan luka dalam yang mematikan. Sebentar lagi tentu aku akan mati menggenaskan mati dikeroyok dengan cara yang memalukan. Sungguh aku tidak bisa terima, kalau mati bertarung dengan lawan tangguh dengan cara ksatria tentu aku dapat menerima, tapi kematian ini terlalu sia-sia, mati ditangan orang yang tidak menghormati sifat ksatria. Dikala kematian akan menjemputku, akupun sudah pasrah, tangan dan kakiku sudah tidak mampu digerakkan lagi, pada saat itu entah dari mana datangnya terdengar “ alunan suara seruling” yang amat merdu, lembut, tenang dan penuh kedamaian, namun didalamnya tersembunyi kekuatan tenaga dalam peniupnya yang luar biasa, mungkin tataran tenaga dalam beberapa kali lipa diatasku. Mendengar suara seruling itu seluruh sukma ku seperti terbetot, tubuhku terasa hampa, kami berlima yang tengah bertarung hidup mati semuanya diam terpaku bagaikan patung tanpa tenaga, tanpa perasaan, lupa pada diri sendiri, lupa pada permusuhan dan lupa pada pertarungan mati-matian. Kami berlima yang sedang bertarung hidup dan mati tidak neyadari entah sejak kapan tahu-tahu ditengah-tengah kami berlima yang sedang diam mematung, telah berdiri seorang kakek tua renta, amat kurus dalam keadaan telanjang bulat dan rambut terurai tak terpelihara menjuntai kebawah sampai ke ujung kaki, janggutnya lurus kebawah menutupi kemaluannya. Melihat kakek ini, yang bersinar matanya amat lembut penuh kedamaian, kadang-kadang matanay mencorong mengeluarkan sinar terang menyilaukan penuh prabawa luar biasa, sinar matanya seperti mampu menembus hati sanubari setiap orang , bibirnya walaupun selalu mengulum senyum penuh kedamiaan, namun tersembuyi wibawa yang mantap yang mampu menendukkan siapa saja didekatnya. Berada dekat kakek ini hati dan jiwaku tergetar, aku teringat Guru suciku di jamnu Dwipa, namun apa yang kusaksikan saat ini penampakkan sangat jauh lebih sempurna, aku bagaikan anak kecil saja, aku merasa benar-benar merasa tuduk sepenuh hati. Kami berlima baru sadar setelahkakek peniup suling yang mengaku bernama KI SULING ini berbicara lemah lembut, penuh kedamaian dan menasehati keempat pesilat tangguh itu yang membenarkan perkataanku sebelumnya dan ikut mendukung nasehatku, jangan merasa diri tanpa tanding dan jagan memalukan dunia persilatan Bali Dwipa dan jangan memalukan orang-orang Watukaru. Kakek ini merasa malu sebagai orang-orang Watukaru melihat prilaku keemepat pesilat ini aku terhenyak mendengar pengakuan kakek peniup suling ini sebagai orang watukaru di Bali Dwipa rupanya tujuan pengembaraanku telah sampai pada tujuan namun aku tidak mampu berbicara nafasku tersengal, tengaku habis seluruh tubuhku dipenuhi luka dalam. Kemudian dengan gusar keempat pesilat tangguh Bali wipa ini berkat a lantang menantang nereka hanya tunduk dan menuruti perkataan orang yang mampu mengalahkannya dalam pertarungan olah kanurangan dan keempatnya serentak mengurung KI SULING siap bertarung menentukan siapa sesungguhnya yang lebih unggul, ...................

Mendadak Ki suling membuka matnya, dari kedua matanya keluar sinar terang sangat tajam menyilaukan mata bagaikan matahari keempat pesilat tangguh mendadak silau, tak dapat melihat apa-apa, pemusatan pikirang menjadi buyar, pada saat itulah kulihat Ki Suling menggerakkan serulingnya, luar biasa hanya dalam satu gerakan Ki Suling mempu merontokkan dan memusnahkan tenaga dalam keempat pesilat itu, Keempat pesilat tangguh secara bersamaan jatuh ke tanah dalam keadaan lumpuh, tenaga dalam yang dihimpunnya selama puluhan tahun telah punah dalam sekejap, semuanya nampak menyesal tidak tahu tingginya langit, aku sendiri baru pertama kali melihat gerrakan silat sedahsyat itu, adalam satu gerakan melepaskan lebih dari 108 serangan dengan tenaga tak terukur, aku sendirian pun rasanya tak mampu bertahan dalam satu gerakan jika terpaksa bertarung dengan kakek ini , Guru Suciku di Jambu Dwipa pernah berkata ada pesilat tangguh bisa melepasakan 2-108 serangan dalam satu gerakan, Aku sendiri selama puluhan tahun di Jambu Dwipa di bawah bimbingan sang Guru Suci berlatih memperbanyak serangan dalam satu gerakan, akhirnya setelah empat puluh tahun berhasil melepaskan 18 serangan dalam satu gerakan, Guru Suci ku saja hanya mampu melepaskan 49 serangan dalam satu gerakan, sungguh bersyukur di daerah Watukaru ini aku dapat menyaksaikan kemampuan melepasakn lebih dari 108 serangan dalam satu gerakan, yang hakekatnya mampu membunuh 108 pesilat tangguh hanya dalam satu gerakan........................

Setelah lama kami berdua berdiskusi masalah ILMU KEBAJIKAN – ILMU SILAT- ILMU PENGOBATAN aku benar-benar mengakui kehebatan kemampuannya, jauh diatas kemampuan guru-guru ku sebelumnya, inilah yang selama ini kucari, aku telah sampai pada ujung harapan maka, tanpa buang waktu segera aku memohon agar diterima sebagai muridnya, dengan senag hati menerimaku sebagai muridnya yang terakhir, pada saat itu juga mahaguru Ki Suling mengajariku TIRTA PRANAYAMA atau Ilmu Pernapasan Air dan SAHASRA KARTIKA WIKRIDITA atau ilmu Langkah Seribu bintang, serta dihadiahi sebuah suling bambu , dia merasa sudah tua, tidak mampu lagi mengajar dengan baik, maka setelah menguasai kedua ilmu yang diajarkan aku disuruh ke GOA SUNIA MANDALA dan belajar sendiri, disana sumbernya ilmu Seruling Dewata

Mengikuti petunjuk Ki Suling aku berlari mendaki Puncak barat Gunung Watukaru sesampainya di puncak barat, aku duduk meniup suling salah satu wirama suling dewata yang baru ku pelajari tiba-tiba dari sana-sini tampak bayangan para yogi berkelebat cepat menuju kearahku, ketika dekat semuanya berlutut rupanya semua menaruh hormat pada suling bambu yang ku bawa.

Di bawah bimbingan kakak-kakak seperguruanku para yogi pertapaan Candra Parwata di puncak Barat Gunung watukaru ditambah kemampuan dasarku selama ini, aku berhasil menguasai kedua ilmu yang diajarkan Mahaguru KI SULING dalam satu tahun. Selanjutnya aku pergi ke danau sesuai petunujk mahaguru aku turun ke dasar danau menahan nafas dengan Ilmu Pernafasan air, sambil melakukan Langkah Seribu Bintang.

Pada pijkaan terakhir aku telah sampai dihadapan pintu masuk Goa Sunia Mandala, dengan pengerahan tenaga sepenuhnya aku berhasil meggeser batu besar penutup goa, setelah ditutup kembali aku berjalan melewati lorong yang penuh cahaya di dindingnya ada banyak gambar bercahaya, berbagai bentuk meditasi, berbagai bentuk posisi binatang dan sebagainya mengandung rahasia ilmu setinggi tingginya ilmu.
Setelah merenungi berbagai gambar di dinding goa Sunia Mandala sambil berlatih selama 18 tahun aku telah menguasai 72 macam ilmu silat Bali Kuno, tenaga dalamku meningkat beberapa kali lipat, melepasakn 108 serangan dalam satu gerakan dengan mudah, ketika kembali ke pertapaan Candra parwata para yogi mengangkatku sebagai ketua yang baru, menggantikan Ki Suling tapi aku menunda ingin menjelajahi seluruh pelosok Bali Dwipa terlebih dahulu.

Setelah menjelajahi seluruh pelosok Bali Dwipa dan bertemu puluhan pesilat tangguh dalam menjajal ilmu tidak ada yang mampu bertahan dalam satu gerakan akhirnya aku merasa yakin mampu memimpin pertapaan Candra Parwata tanpa kesulitan, maka aku bersedia diangkat sebagai ketua menggantikan Mahaguru Ki Suling.

Selama berkelana di seluruh pelosok Bali Dwipa orang-orang dunia persilatan mengenalku dengan sebutan WIKO DHARMO pada abad ke V Caka - tahun ke 63 bulan ke 11 hari ke 26 aku ditahbiskan sebagai sesepuh angkatan I PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA oleh MAHA GURU SULING dan Mahaguru Ki Suling dianggap sebagai SESEPUH PEMULA.

Kesemuanya ini atas kesepakatan berdua, karena dari 12 cabang perguruan Ardha Candra hanya tersisa 1 cabang saja yaitu CABANG SULING DEWATA maka teralu berat kalau masih menyandang nama perguruan ARDHA CANDRA yang maha besar ini, makanya disetujui memakai nama cabang saja, karena terdiri dari 72 macam ilmu silat Bali Kuno , maka lebih cocok di pakai nama Paiketan ( Ikatan) yang mampu mempersatukan semuanya sehingga disetujui dinamakan PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA.

Aku sendiri sebagai sesepuh angkatan I yang mengetahui Perguruan ini, sedangkan Mahaguru Ki Suling kerena masih ada ikatan dengan Paguron Ardha Candra beliau lebih suka dipanggil SESEPUH PEMULA masalah PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA selanjutnya beliau tidak mau tahu itu adalah urusanku dan para sesepuh generasi berikutnya.

| english |

     
" Warta perguruan memuat sepenggal kisah Mahapatih Gajahmada dan Ki Soma Kepakisan , serta beberapa kegiatan Perguruan "
 
Home|Sejarah|Sesepuh|Profile|Tapak Suci|Cakra dan Kundalini|Kanda Pat|Yoga Watukaru|72 jurus inti|Ilmu Silat Tali Rasa|Walian Sakti|Contact Us|
the official website of Paiketan Paguron Suling Dewata Bali Copyright ©2011 seruling dewata bali, All Rights Reserved