Sesepuh generasi II
Paiketan Paguron Suling Dewata adalah sepasang Mahayogi kembar yang
bernama Ki Mudra dan Ki Madra, beliau adalah siswa yang dibina dan
dituntun secara langsung oleh Ki Byanlu Syamar ( Budhi Dharma ),
sesepuh Generasi I Paiketan Paguron Suling Dewata. Ki Mudra adalah
pemimpin siswa dari golongan Tanah yang ahli dalam pertarungan di
darat, sedangkan Ki Madra adalah pemimpin siswa dari golongan Air
yang ahli dalam pertarungan di Air. Dari 72 macam ilmu silat Bali
Kuno yang dipelajarinya KI Mudra dan KI Madra paling ahli dalam
menggunakan Ilmu Silat Harimau Sakti yang disebut "Sheru Cakti
Yoga Cara Bhumi Castra ", dan dalam pertarungan pertarungan
diseluruh Bali Dwipa dalam masa pengembaraannya Ki Mudra dan KI
Madra selalu menggunakan Ilmu Silat Harimau Sakti sehingga akhirnya
dunia persilatan Bali Dwipa pada Masa itu menjulukinya dengan sebutan
: " Macan Gunung Watukaru ". Yang paling istimewa adalah
Ki Mudra dan Ki Madra berhasil berlatih ilmu yang sangat Langka
dalam Paiketan Paguron Suling Dewata yang dinamakan "Ilmu Wayangan
Sumpene", atau Ilmu bayangan mimpi , ilmu langka ini sangat
istimewa hanya bisa dilatih oleh sepasang orang bersaudara kembar
bahkan Ki Byanlu Syamar ( Budhi Dharma, sendiri tidak mampu mempelajari/berlatih
ilmu langka Wayangan Sumpene ini.Inti sari dari ilmu Wayangan Sumpene
( Bayangan Mimpi ) ini , syaratnya ada dua orang kembar yang sehati,
saling melindungi dan berani berkorban nyawa untuk menyelamatkan
satu sama lain. Diawali dengan keduanya berlatih meditasi sedikitnya
15 tahun sampai mencapai tingkatan atau tahapan tertentu yang dinamakan
"Pemungkas Sukma ", yaitu mengeluarkan jiwa dari raganya
dan memungkas yaitu memisahkan antara jiwa dan raga yang bersangkutan.
Selanjutnya pada puncak latihan kedua orang kembar secara bersamaan
melakukan meditasi Pamungkas Sukma dan mengeluarkan jiwa dari raganya,
kemudian dengan kekuatan bathin yang luar biasa Ki Byanlu Syamar
menukar jiwa kedua orang kembar tersebut, sukma atau jiwa KI Mudra
dimasukkan ke dalam raga Ki Madra dan dalam waktu yang bersamaan
sukma atau jiwa Ki Madra di masukan ke dalam raga Ki Mudra. Penguasa
ilmu langka Wayangan Sumpene ini tidak merasa sakit apabila badannya
kena pukul atau kena tendang bahkan tertusuk senjatapun tidak merasa
sakit dan tidak dapat dibunuh oleh siapapun sepanjang kembarannya
masih hidup.
Dengan ilmu langka Wayangan Sumpane ini Ki Mudra dan Ki Madra dapat
mengalahkan saudara seperguruannya yang satu angkatan dalam pertarungan
adil satu lawan satu bahkan dapat mengalahkan Ki Byanlu Syamar (
Budhi Dharma ) sendiri. Ki Mudra dan Ki Madra didiksa sebagai sesepuh
Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata dihadapan Ki Goplo (
Ki Suling ), sesepuh pemula pada abad ke 6 caka - tahun ke 96-bulan
ke 7-hari ke 15 atau caka warsa 596. Selama memimpin perguruan sebagai
sesepuh Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata membina dan menuntun
ratusan yogi dan yogini , beberapa diantaranya yang terkenal adalah
: Ki Hanuraga, Ki Kolot, Ki Nara Utama, Ki Nedeng , Ni Selasih ,
Ki Anturan, Ki Pujut , Ki Nala, Ni Kusambi, Ki Sada , Ki Herlangga
, Ki Catus , NI Tunggali , Ni Lubani , Ni Rabut , Ki lebah , KI
Kodong. Pada saka warsa 892 Ki Mudra dan Ki Madra, mengundurkan
diri sebagai sesepuh setelah menyerahkan wasiat kepada salah seorang
muridnya yang bernama Ki Hanuraga untuk menjabat sesepuh generasi
ke III Paiketan Paguron Suling Dewata, selanjutnya pada masa akhir
kehidupannya KI Mudra dan KI Madra meneliti dan menyempurnakan ilmu
silatnya serta berhasil menciptakan ilmu silat yang Maha Dahsyat
yang dinamakan : Ilmu Silat Maha Manusia . lmu silat ini mengembangkan
semua organ tubuh manusia sehingga menjadi kekuatan penghancur yang
maha dahsyat seperti : Pikiran, Rambut, Mata, Ludah, Ingus, Keringat,
Detak Jantung, Bersin, Batuk, bahkan kentut dapat berkembang menjadi
kekuatan penghancur dan pembunuh yang maha dahsyat. Setelah berabad
abad hidup terus belum juga meninggalkan dunia ini karena menguasai
ilmu langka Wayangan Sumpene akhirnya keduanya merasa bosan hidup
lalu keduanya sepakat mengakhiri hidupnya dengan saling menyerang
satu sama lain dalam waktu yang bersamaan sehingga hancur musnah
menjadi debu karena kedahsyatan serangan masing-masing.
